Posted on

Kalimat Efektif

Membuat Kalimat Efektif

Tentang kalimat efektif ini sudah pernah dibahas dikelas Bahasa Indonesia semester 7 dan dosennya beliau adalah Bapak Rony Sulistiono, tapi akan saya posting di blog saya. Siapa tahu bermanfaat :) untuk teman-teman penulis.

Ketika membuat suatu tulisan, karangan, ataupun membuat suatu bagian yang lebih sederhana dari karangan yaitu kalimat, kita sering menghadapi banyak persoalan. Salah satunya adalah apakah kalimat yang kita buat itu efektif atau tidak, sehingga pembaca bisa memahami apa yang ingin kita ungkapkan.

Sebelum dapat membuat atau bahkan membetulkan suatu kalimat menjadi efektif, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dipakai untuk menyampaikan informasi dari pembicara atau penulis kepada lawan bicara atau pembaca secara tepat. Ketepatan dalam penyampaian informasi akan membuahkan hasil, yaitu adanya kepahaman lawan bicara atau pembaca terhadap isi kalimat atau tuturan yang disampaikan. Lawan bicara atau pembaca tidak akan bisa menjawab, melaksanakan, atau menghayati setiap kalimat atau tuturan itu sebelum mereka dapat memahami benar isi kalimat atau tuturan tersebut.

Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu. Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:

  1. Pleonastis

Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:

  • · Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.

Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.

  • · Kita harus saling tolong-menolong.

Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.

2. Kontaminasi

Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:

Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan.

Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

3. Salah pemilihan kata

Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:

Saya mengetahui kalau ia kecewa.

Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.

4. Salah nalar

Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:

Bola gagal masuk gawang.

Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.

5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)

  • · Bahasa asing

Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:

Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.

Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:

I live in Semarang where my mother works.

Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:

Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.

  • · Bahasa daerah

Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat kita lihat pada kalimat berikut:

Anak-anak sudah pada datang.

Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:

Anak-anak sudah datang.

Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di tabloid anak-anak Yunior.

Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune metu endi?)

Kita sebaiknya mengganti kalimat tersebut dengan: Masuknya lewat mana?

6. Kata depan yang tidak perlu

Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu seperti pada kalimat berikut:

Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.

Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga kalimatnya menjadi:

Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.

Ada beberapa hal yang mengakibatkan suatu tuturan menjadi kurang efektif, antara lain:

1. Kurang padunya kesatuan gagasan.

Setiap tuturan terdiri atas beberapa satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap dan mendukung satu ide pokoknya. Kita bisa melihat pada contoh berikut:

Program aplikasi MS Word dapat Anda gunakan sebagai pengolah kata. Dengan program ini Anda dapat melakukan berbagai aktivitas perkantoran seperti mengetik surat atau dokumen. MS Word adalah produk peranti lunak keluaran Microsoft.

Kalimat-kalimat pada contoh tersebut tidak mempunyai kesatuan gagasan. Seharusnya setelah diungkapkan gagasan tentang “fungsi MS Word” pada kalimat pertama, diungkapkan gagasan lain yang saling bertautan.

2. Kurang ekonomis pemakaian kata.

Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Sebaiknya kita menghindari kata yang tidak diperlukan benar dari sudut maknanya, misalnya:

  • · membicarakan tentang transmigrasi

Seharusnya: membicarakan transmigrasi

  • · sudah pada tempatnya apabila

Seharusnya: sudah selayaknya apabila

  • · Depresi ekonomi bukan hanya dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah, tetapi juga dirasakan oleh kelompok elite pribumi.

Seharusnya: Depresi ekonomi dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah dan kelompok elite.

Atau: Depresi ekonomi dirasakan kaum pribumi di semua lapisan.

3. Kurang logis susunan gagasannya.

Tulisan dengan susunan gagasan yang kurang logis dapat kita lihat pada contoh berikut:

Karena zat putih telurnya itulah maka telur dan dagingnya ayam itu sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Semua makhluk dalam hidupnya memerlukan zat putih telur, manusia untuk melanjutkan hidupnya perlu akan zat putih telur.

Kita dapat membuat tulisan itu menjadi efektif seperti berikut:

Semua makhluk hidup memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam. Manusia adalah makhluk hidup. Jadi, manusia memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam untuk melanjutkan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi tubuh.

4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.

Pemakaian bahasa tidak baku hendaknya dihindari dalam ragam bahasa keilmuan.

  • · Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Gatot A.S atas bimbingannya dalam menyelesaikan buku ini.
  • · Sehubungan dengan hal itu Takdir Alisyahbana bilang bahwa hal bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional.

Pemakaian kata menghaturkan dan bilang tidak tepat untuk ragam bahsa keilmuan, sehingga kata-kata tersebut sebaiknya diganti dengan mengucapkan dan mengatakan.

5. Konstruksi yang bermakna ganda.

Suatu kalimat dipandang dari sudut tata bahasanya mungkin tidak salah, namun kadang-kadang mengandung tafsiran ganda (ambigu) sehingga tergolong kalimat yang kurang efektif. Kalimat yang memiliki makna ganda dapat kita lihat pada kalimat-kalimat:

  • · Istri kopral yang nakal itu membeli sepatu.

Unsur yang nakal itu menerangkan istri atau kopral ? Jika yang dimaksud nakal adalah istri, maka kalimat itu seharusnya menjadi:

Istri yang nakal kopral itu membeli sepatu.

  • · Penyuluh menerangkan cara beternak ayam baru kepada para petani.

Kata baru pada kalimat itu menerangkan kata ayam atau cara beternak? Jika kata baru menerangkan cara beternak, kalimat itu menjadi lebih baik seperti kalimat berikut:

Penyuluh menerangkan cara baru beternak ayam kepada para petani.

6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.

Penyusunan yang kurang cermat dapat mengakibatkan nalar yang terkandung di dalam kalimat tidak runtut sehingga kalimat menjadi kurang efektif.

Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.

Kalimat tersebut dapat diperbaiki seperti berikut:

  • · Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
  • · Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal ini memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.

7. Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.

Dalam kalimat yang berisi perincian, satuan-satuan dalam perincian itu akan lebih efektif jika diungkapkan dalam bentuk sejajar. Jika dalam suatu kalimat perincian satu diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat, perincian lainnya juga diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat juga (sejajar). Contoh kalimat yang perinciannya tidak sejajar:

  • · Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, mengklasifikasikan data, dan menganalisis data.

Seharusnya:

Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian data, dan penganalisisan data.

  • · Dengan penghayatan yang sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.

Seharusnya:

Dengan menghayati secara sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.

Atau:

Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.

Menulis kalimat efektif melibatkan beberapa hal, yakni mengetahui tujuan tulisan, menentukan gaya penyampaian, dan mengenali pembaca. Ketiga bagian tersebut membantu kita membentuk kalimat-kalimat yang dapat mencapai tujuan kita menulis.

1. Mengetahui tujuan tulisan
Suatu tulisan dibuat pasti dengan tujuan tertentu, misal: mendidik, membujuk, menyuruh, atau berbagi informasi. Bertanyalah pada diri sendiri: apa yang ingin dicapai oleh tulisan kita? Dengan mengetahui tujuan tulisan, kita dapat menyusun kalimat-kalimat yang mendukung pencapaian tujuan tersebut.

2. Menentukan gaya penyampaian
Gaya penyampaian tidak berarti mempermanis pesan yang pahit. Kita bisa menanggapi keluhan secara efektif dengan cara menghilangkan kemarahan si pengeluh: “Kami memahami keluhan Anda. Kami meminta maaf atas ketidakpuasan Anda.” Kemudian sampaikan pendapat kita: “Kami menerima semua keluhan pelanggan kami secara sungguh-sungguh dan mencoba untuk menangani penyebab keluhan tersebut”. Pesan yang kita disampaikan akan lebih efektif jika kita menyampaikannya secara profesional.

Menyampaikan secara positif
Menyampaikan gagasan secara positif memudahkan pembaca menangkap pesan yang ingin kita sampaikan. Menyampaikan pesan secara negatif memancing tanggapan negatif pula. Contoh penyampaian secara negatif: “Mustahil bagi saya untuk memenuhi tenggat waktu itu.” Alih-alih, sampaikan pesan secara positif, misal: “Mari kita bahas jadwal dan tenggat waktu yang dapat kita tepati bersama.”

Mengukur keluaran
Keefektifan tulisan dapat diukur dari keluarannya. Bertanyalah pada diri sendiri: bagaimana tanggapan pembaca terhadap pesan yang kita sampaikan? Jika tulisan kita efektif, pembaca akan memahami pesan yang kita sampaikan dan akan menjawab apa yang kita perlukan atau menerima penjelasan kita. Contoh, jika kita menulis tentang suatu produk terbaru dan kita menerima banyak permintaan akan penjelasan lebih lanjut, berarti tulisan kita tidak mampu mencapai tujuannya, yakni menjelaskan produk baru.

3. Mengenali pembaca
Pengenalan akan pembaca sasaran membantu kita membentuk tulisan. Pikirkan tentang siapa yang akan membaca tulisan kita, apa saja yang sudah mereka ketahui, dan bagaimana menyajikan gagasan secara efektif bagi mereka. Contoh, dalam suatu laporan internal perusahaan, kita bisa gunakan istilah atau singkatan yang telah dipahami para rekan kerja. Dalam surat kepada pelanggan baru, kita harus hindari istilah teknis dan sebaiknya menyertakan informasi tentang perusahaan kita. Kita menulis tidak untuk memuaskan diri kita, tetapi kita menulis untuk mencapai suatu tujuan.

Mempertimbangkan konteks
Kita sebaiknya tidak hanya mengenali pembaca tulisan kita, tetapi juga aras formalitas yang pantas. Beberapa tempat mengharuskan tulisan yang resmi profesional, sedangkan beberapa tempat lain mungkin mengijinkan tulisan yang lebih santai dengan gaya tak resmi. Ketika kita mewakili perusahaan kita, selalu sampaikan secara resmi, misal: “Terimakasih Anda telah bersedia meluangkan waktu makan siang untuk membahas proposal kami.” Ketika menulis untuk keluarga atau kawan, kita mungkin tak perlu mengikuti sepenuhnya tata dan gaya bahasa, misal: “Terimakasih untuk makan siang tadi! Senang bertemu denganmu.”

Sumber: Susan Herman. Grammar Essentials. Element K Press (2005). IEEE Computer Society e-learning campus.

KALIMAT EFEKTIF DAN PERMASALAHANNYA

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama

anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau

perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu

hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan,

atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat

mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya

secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau

gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran

tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau

pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada

sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau

yang dituliskan.

Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara

tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur

yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan

semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan

kaidah (Mustakim, 1994:86).

Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi

syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimatkalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya

kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena

kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik untuk

membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.

Menurut Nazar (1991, 44:52) ketidakefektifan kalimat dikelompokkan menjadi

(1) ketidaklengkapan unsur kalimat, (2) kalimat dipengaruhi bahasa Inggris, (3) kalimat

mengandung makna ganda, (4) kalimat bermakna tidak logis, (5) kalimat mengandung

gejala pleonasme, dan (6) kalimat dengan struktur rancu.

2.1 Ketidaklengkapan Unsur Kalimat

Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya bahwa kalimat efektif harus memiliki

unsur-unsur yang lengkap dan eksplisit. Untuk itu, kalimat efektif sekurang-kurangnya

harus mengandung unsur subjek dan predikat. Jika salah satu unsur atau kedua unsur itu

tidak terdapat dalam kalimat, tentu saja kalimat ini tidak lengkap. Adakalanya suatu

kalimat membutuhkan objek dan keterangan, tetapi karena kelalaian penulis, salah satu

atau kedua unsur ini terlupakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

(1) Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif.

(2) Masalah yang dibahas dalam penenelitian ini.

(3) Untuk membuat sebuah penelitian harus menguasai metodologi penelitian.

(4) Bahasa Indonesia yang berasal dari Melayu.

(5) Dalam rapat pengurus kemarin sudah memutuskan.

(6) Sehingga masalah itu dapat diatasi dengan baik.

Kalau kita perhatikan kalimat di atas terlihat bahwa kalimat (1) tidak memiliki subjek

karena didahului oleh kata depan dalam; kalimat (2) dan (4) tidak memiliki predikat

hanya memiliki subjek saja; kalimat (3) tidak memiliki subjek; kalimat (5) tidak memiliki

subjek dan objek; kalimat (6) tidak memiliki subjek dan predikat karena hanya terdiri atas

keterangan yang merupakan anak kalimat yang berfungsi sebagai keterangan. Agar

kalimat-kalimat di atas menjadi lengkap, kita harus menghilangkan bagian-bagian yang

berlebih dan menambah bagian-bagian yang kurang sebagaimana terlihat pada contoh

berikut.

(1a) Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.

(1b) Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif.

(2a) Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah jenis dan makna

konotasi teka-teki dalam bahasa Minangkabau.

(3a) Untuk membuat sebuah penelitian kita harus menguasai metodologi

penelitian.

(4a) Bahasa Indonesia berasal dari Melayu.

(5a) Dalam rapat pengurus kemarin kita sudah memutuskan program baru.

(6a) Kita harus berusaha keras sehingga masalah itu dapat diatasi dengan baik.

2.2 Kalimat Dipengaruhi Bahasa Inggris

Dalam karangan ilmiah sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam

mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sebagai penghubung. Menurut Ramlan

(1994:35-37) penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh

bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bentuk di mana sejajar dengan penggunaan

where, dalam mana dan di dalam mana sejajar dengan pemakaian in which, dan yang

mana sejajar dengan which. Dikatakan dipengaruhi oleh bahasa Inggris karena dalam

bahasa Inggris bentuk-bentuk itu lazim digunakan sebagai penghubung sebagaimana

terlihat pada contoh berikut.

(7) The house where he live very large.

(8) Karmila opened the album in which he had kept her new photogragraph.

(9) If I have no class, I stay at the small building from where the sound of

gamelan can be heard smoothly

(10) The tourism sector which is the economical back bone of country must

always be intensified.

Pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang

mana sering ditemui dalam tulisan seperti yang terlihat pada data berikut.

(11) Kantor di mana dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.

(12) Kita akan teringat peristiwa 56 tahun yang lalu di mana waktu itu bangsa

Indonesia telah berikrar.

(13) Rumah yang di depan mana terdapat kios kecil kemarin terbakar.

(14) Sektor pariwisata yang mana merupakan tulang punggung perekonomian

negara harus senantiasa ditingkatkan.

(15) Mereka tinggal jauh dari kota dari mana lingkungannya masih asri.

Bentuk-bentuk di mana, di depan mana, dari mana, yang mana, dan dari mana dalam

bahasa Indonesia dipakai untuk menandai kalimat tanya. Bentuk di mana dan dari mana

dipakai untuk menyatakan ‘tempat’, yaitu ‘tempat berada’ dan ‘tempat asal’, sedangkan

yang mana untuk menyatakan pilihan. Jadi, kalimat (11-15) di atas seharusnya diubah

menjadi:

(11a) Kantor tempat dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.

(12a) Kita akan teringat peristiwa 56 tahun yang lalu yang waktu itu bangsa

Indonesia telah berikrar.

(13a) Rumah yang di depan kios kecil kemarin terbakar.

(14a) Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonomian negara

harus senantiasa ditingkatkan.

(15a) Mereka tinggal jauh dari kota yang lingkungannya masih asri.

2.3 Kalimat Mengandung Makna Ganda

Agar kalimat tidak menimbulkan tafsir ganda, kalimat itu harus dibuat selengkap

mungkin atau memanfaatkan tanda baca tertentu. Untuk lebih jelasnya perhatikan data

berikut.

(16) Dari keterangan masyarakat daerah itu belum pernah diteliti.

(17) Lukisan Basuki Abdullah sangat terkenal.

Pada kalimat (16) di atas terdapat dua kemungkinan hal yang belum pernah diteliti yaitu

masyarakat di daerah itu atau daerahnya. Agar konsep yang diungkapkan kalimat itu

jelas, tanda koma harus digunakan sesuai dengan konsep yang dimaksudkan. Kalimat

(16) tersebut dapat ditulis sebagai berikut.

(16a) Dari keterangan (yang diperoleh), masyarakat daerah itu belum pernah

diteliti.

(16b) Dari keterangan masyarakat, daerah itu belum pernah diteliti.

Pada kalimat (17) terdapat tiga kemungkinan ide yang dikemukakan, yaitu yang sangat

terkenal adalah lukisan karya Basuki Abdullah atau lukisan diri Basuki Abdullah atau

lukisan milik Basuki Abdullah seperti yang terlihat data data (17a), (17b), dan (17c)

berikut.

(17a) Lukisan karya Basuki Abdullah sangat terkenal.

(17b) Lukisan diri Basuki Abdullah sangat terkenal.

(17c) Lukisan milik Basuki Abdullah sangat terkenal.

Pemakaian tanda hubung juga dapat digunakan untuk memperjelas ide-ide yang

diungkapkan pada frase pemilikan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan berikut.

(18) Ani baru saja membeli buku sejarah baru.

Kalimat (18) di atas mengandung ketaksaan yaitu yang baru itu buku sejarahnyakah atau

sejarahnya yang baru. Untuk menghindari ketaksaan makna, digunakan tanda hubung

agar konsep yang diungkapkan jelas sesuai dengan yang dimaksudkan. Kalimat (18a)

yang baru adalah buku sejarahnya, sedangkan kalimat (18b) yang baru adalah sejarahnya.

(18a) Ani baru saja membeli buku-sejarah baru.

(18b) Ani baru saja membeli buku sejarah-baru.

2.4 Kalimat Bermakna Tidak Logis

Kalimat efektif harus dapat diterima oleh akal sehat atau bersifat logis. Kalimat

(19) berikut tergolong kalimat yang tidak logis.

(19) Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah selesailah makalah ini.

Kalau kita perhatikan secara sepintas kalimat (19) di atas tampaknya tidak salah. Akan

tetapi, apabila diperhatikan lebih seksama ternyata tidak masuk akal. Seseorang untuk

menyelesaikan sebuah makalah harus bekerja dulu dan tidak mungkin makalah itu akan

dapat selesai hanya dengan membaca alhamdulillah. Jadi, supaya kalimat itu dapat

diterima, kalimat itu dapat diubah menjadi:

(20a) Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang Mahakuasa

karena dengan izin-Nya jualah makalah ini dapat diselesaikan.

2.5 Kalimat Mengandung Pleonasme

Kalimat pleonasme adalah kalimat yang tidak ekonomis atau mubazir karena ada

terdapat kata-kata yang sebetulnya tidak perlu digunakan. Menurut Badudu (1983:29)

timbulnya gejala pleonasme disebabkan oleh (1) dua kata atau lebih yang sama maknanya

dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan, (2) dalam suatu ungkapan yang terdiri atas dua

patah kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan lagi sebab maknanya sudah

terkandung dalam kata yang pertama, dan (3) bentuk kata yang dipakai mengandung

makna yang sama dengan kata kata lain yang dipakai bersama-sama dalam ungkapan itu.

Contoh-contoh pemakaian bentuk mubazir dapat dilihat berikut ini.

(20) Firmarina meneliti tentang teka-teki bahasa Minangkabau.

(21) Banyak pemikiran-pemikiran yang dilontarkan dalam pertemuan tersebut.

(22) Pembangunan daripada waduk itu menjadi sisa-sia pada musim kemarau

panjang ini.

(23) Air sumur yang digunakan penduduk tidak sehat untuk digunakan.

(24) Jika dapat ditemukan beberapa data lagi, maka gejala penyimpangan

perilaku itu dapat disimpulkan.

Pada kalimat (20) kata tentang (preposisi lainnya) yang terletak antara predikat dan objek

tidak boleh digunakan karena objek harus berada langsung di belakang predikat. Pada

kalimat (21) kata pemikiran tidak perlu diulang karena bentuk jamak sudah dinyatakan

dengan menggunakan kata banyak. Atau dengan kata lain, kata banyak dapat juga

dihilangkan. Pada kalimat (22) kata daripada tidak perlu digunakan karena antara unsurunsur

frase pemilikan tidak diperlukan preposisi. Pada kalimat (23) terdapat pengulangan

keterangan ‘yang digunakan’. Pengulangan ini tidak perlu. Pada kalimat (24) terdapat

dua buah konjungsi yaitu jika dan maka. Dengan adanya dua konjungsi ini, tidak

diketahui unsur mana sebagai induk kalimat dan unsur mana sebagai anak kalimat.

Dengan demikian kedua unsur itu merupakan anak kalimat. Jadi, kalimat (24) tidak

mempunyai induk kalimat. Kalau begitu, satu konjungsi harus dihilangkan supaya satu

dari dua unsur itu menjadi induk kalimat. Jadi, kalimat-kalimat (20-24) dapat diubah

menjadi kalimat efektif sebagaimana terlihat pada data berikut.

(20a) Firmarina meneliti teka-teki bahasa Minangkabau.

(21a) Banyak pemikiran-pemikiran baru dilontarkan dalam pertemuan tersebut.

(21b) Pemikiran-pemikiran baru dilontarkan dalam pertemuan tersebut.

(22a) Pembangunan waduk itu menjadi sisa-sia pada musim kemarau panjang

ini.

(23a) Air sungai yang digunakan penduduk tidak sehat.

(24a) Jika dapat ditemukan beberapa data lagi, gejala penyimpangan perilaku

itu dapat disimpulkan.

Berikut ini akan dicontohkan kalimat pleonasme yang terdiri atas dua kata atau

lebih yang mempunyai makna yang hampir sama.

(25) Kita harus bekerja keras agar supaya tugas ini dapat berhasil.

Kalimat (25) akan efektif jika diubah menjadi:

(25a) Kita harus bekerja keras supaya tugas ini dapat berhasil.

(25b) Kita harus bekerja keras agar tugas ini dapat berhasil.

4.6 Kalimat dengan Struktur Rancu

Kalimat rancu adalah kalimat yang kacau susunannya. Menurut Badudu (1983:21)

timbulnya kalimat rancu disebabkan oleh (1) pemakai bahasa tidak mengusai benar

struktur bahasa Indonesia yang baku, yang baik dan benar, (2) Pemakai bahasa tidak

memiliki cita rasa bahasa yang baik sehingga tidak dapat merasakan kesalahan bahasa

yang dibuatnya, (3) dapat juga kesalahan itu terjadi tidak dengan sengaja. Untuk lebih

jelasnya, perhatikan contoh berikut.

(26) Dalam masyarakat Minangkabau mengenal sistem matriakat.

(27) Mahasiswa dilarang tidak boleh memakai sandal kuliah.

(28) Dia selalu mengenyampingkan masalah itu.

Kalimat (26) di atas disebut kalimat rancu karena kalimat tersebut tidak mempunyai

subjek. Kalimat (26) tersebut dapat diperbaiki menjadi kalimat aktif (26a) dan kalimat

pasif (26b). Sementara itu, kalimat (27) terjadi kerancuan karena pemakaian kata

dilarang dan tidak boleh disatukan pemakaiannya. Kedua kata tersebut sama maknanya.

Jadi, kalimat (27) dapat diperbaiki menjadi kalimat (27a) dan (27b). Pada kalimat (28)

kerancuan terjadi pada pembentukan kata dan kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi

kalimat (28a).

(26a) Masyarakat Minangkabau mengenal sistem matriakat.

(26b) Dalam masyarakat Minangkabau dikenal sistem matriakat.

(27a) Mahasiswa dilarang memakai sandal kuliah.

(27b) Mahasiswa tidak boleh memakai sandal kuliah.

(28a) Dia selalu mengesampingkan masalah itu.

Di samping itu, juga terdapat bentukan kalimat yang tidak tersusun secara sejajar.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

(29) Program kerja ini sudah lama diusulkan, tetapi pimpinan belum

menyetujui.

Ketidaksejajaran bentuk pada kalimat di atas disebabkan oleh penggunaan bentuk kata

kerja pasif diusulkan yang dikontraskan dengan bentuk aktif menyetujui. Agar menjadi

sejajar, bentuk pertama menggunakan bentuk pasif, hendaknya bagian kedua pun

menggunakan bentuk pasif. Sebaliknya, jika yang pertama aktif, bagian kedua pun aktif.

Dengan demikian, kalimat tersebut akan memiliki kesejajaran jika bentuk kata kerja

diseragamkan menjadi seperti di bawah ini.

(29a) Program kerja ini sudah lama diusulkan, tetapi belum disetujui pimpinan.

(29b) Kami sudah lama mengusulkan program ini, tetapi pimpinan belum

menyetujuinya.

About tempekemulmanget2

i'm just a normal girls...n being with you is the best moment in my life because you are the best thing that ever happen in my life:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s