Posted on

PROSA POPULER DI INDONESIA

Hand out Mata Kuliah Prosa Indonesia

PROSA POPULER INDONESIA

Oleh Dedi Pramono, M.Hum

Sastra populer di Indonesia mempunyai runtutan sejarah panjang, bahkan lebih panjang dari “sastra serius”. Perintis munculnya sastra populer Indonesia adalah warga Cina Peranakan华裔 dan warga Indo混血 pada sekitar akhir abad ke-19 dengan menggunakan bahasa Melayu.

Menurut Sumarj para warga Cina peranakan menghasilkan karya sastra sebagai bentuk pencarian tradisi sastra sendiri setelah mereka gagal dari tradisi sastra nenek moyangnya sebagai akibat ketidakmampuan dalam penggunaan bahasa (Salmon, 1985 : 2) dan tidak dapat masuk ke dalam tradisi sastra tradisional Indonesia, yang juga sebagai akibat ketidakmampuan mereka menguasai bahasa daerah. Secara rinci, Sumarjo (1992 : 7-8) menyebutkkan tiga faktor penyebab penumbuhsuburan populer dengan menggunakan bahasa Melayu di kalangan masyarakat Cina-Peranakan, yaitu  sebagai berikut.

  1. Ketercerabutan dari akar budaya nenek moyang

Orang-orang Tionghoa (Cina Peranakan) yang sudah tetap di Indonesia makin tidak mengenal lagi budaya nenek moyangnya. Hal ini menyebabkan banyaknya permintaan penyaduran改编 dan penerjemahan karya-karya Cina ke dalam bahasa Melayu Rendah, bahasa yang mereka kuasai sejak lahir di Indonesia.

2. Adanya modal untuk percetakan

Sejak tahun 1850-an sudah banyak diterbitkan surat kabar berbahasa Melayu Rendah yang diberi modal oleh golongan Cina-Peranakan. Oleh karena banyaknya permintaan seperti faktor di atas, maka sastra popu­ler dalam bahasa Melayu Rendah pun terus berkembang.

Menurut perhitungan Claudine Salmon (1985), selama hampir 100 tahun (1870-1960) jumlah karya sastra Melayu Tionghoa sebanyak 3005 karya dengan 806 nama penulis. Jumlah tersebut merupakan jumlah spektakuler,  jika dibandingkan dengan hasil karya sastra Indonesia modern selama hampir 50 tahun (1918-1967) menurut catatan Teeuw (Marcus dan Benedanto,2000) berjumlah 400 karya dengan 175 nama penulis. Dalam perhitungan Kepustakaan Populer Gramedia (200 :viii-ix) sampai dengan tahun 1979 hasil karya sastra Indonesia modern berjumlah 770 karya dengan melibatkan 284 nama penulis . Bila dalam waktu hampir 20 tahun berikutnya (1979-2009) terjadi peningkatan 100 persen, maka jumlah itu masih jauh di bawah jumlah karya sastra Melayu Tionghoa.

3. Orientasi budaya mengarah ke Barat

Masyarakat Cina-Peranakan lebih mudah menyerap budaya Barat daripada menyerap budaya nenek moyangnya sendiri dan budaya tradisonal. Hal ini didukung pula oleh sedang berkembangnya kebudayaan Barat di kota-­kota tempat mereka hidup dan berusaha. Maka, budaya Barat, khususnya model sastra populer, berkem­bang pesat di kalangan mereka.

Adapun alasan warga Indo tertarik kepada pengembangan karya sastra dengan bahasa Melayu lebih bersifat politik etis, yakni dilakukan oleh para wartawan yang mulai sadar untuk menempatkan wasyarakat di sekitar mereka sebagai bahan pembica­raan (Hartoko, 1979 : 4). Di samping itu, warga Indo ingin membangun tradisi sastra sendiri dan man­diri yang tidak terikat dan tergantung lagi kepada tradisi satra Belanda dan tradisi sastra Daerah.

Kedua golongan warga tersebut adalah kaum intelektual (pada umumnya wartawan) yang berkedudukan di kota, maka karya sastra yang mereka hasilkan adalah karya sastra sebagai produk budaya kota yang pada saat itu telah banyak dipengaruhi oleh budaya Barat, yang kemudian sebagai cikal bakal karya yang disebut sebagai karya sastra populer.

Model sastra ini berkembang pesat setelah munculnya terbitan berbahasa Melayu dan Belanda. Pada tahun 1885 telah hadir 28 nama surat kabar di luar yang berbahasa Arab dan Jawa. Karya sastra populer berbahasa Melayu pertama lahir tahun 1884 dari Lie Elm Hok (1853 – 1912) berjudul Sobat Anak-anak. Sejak saat itu, lahirlah berbagai sastra populer yang sebagian besar merupakan saduran dari sastra populer Barat pada zaman itu seperti Rocambele, Monte Christo, Kapten Flamberge, juga beberapa saduran dari sastra silat Cina. Dari kalangan Indo lahir judul-­judul seperti Nona Leonie karya HFR Kommer, Nyai Isa oleh F. Wiggers, dan Nyai Dasima karya G. Francis, dan dari pengarang pribumi berpendidikan Barat muncul karya berjudul Rossina karya F.D.J. Pangemanann (orang Minahasa : 1870 – 1910). Kedua kelompok perin­tis sastra populer Indonesia tersebut memiliki perbe­daan dalam penggunaan ‘bahasa’ dan ‘bahan cerita’. Kelompok warga Cina Peranakan memakai bahasa Melayu­Cina, sedangkan kelompok warga Indo memakai bahasa Melayu-Rendah dan Melayu-Tinggi. Pada kelompok pertama bahan cerita diambil dari kehidupan kalangan masyarakat Tionghoa di kota, sedangkan pada kelompok kedua digali dari kehidupan masyarakat Indonesia secara umum di kota-kota. Persamaan pada keduanya adalah kedekatan cerita dengan masalah yang aktual di masyarakat dan bergaya sensasional dengan pemberian predikat “terjadi benar-benar” pada setiap judul yang diterbitkan (Sumarjo, 1991 : 172 – 173).

Sastra populer yang dirintis kelompok Cina peranakan mencapai zaman keemasan pada sekitar tahun 1925, setelah adanya terbitan berkala tiap bulanan. Setiap bulan terbit satu atau dua karya sastra dengan tebal 80 halaman. Dalam hal bahan cerita juga terdapat perkembangan, tidak saja bercerita tentang masyarakat Tionghoa di kota, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum seperti tentang babu, petani, dan sejarah Indonesia. Sastra populer yang dirintis kelompok Indo dan pribumi berpendidikan Barat seakan berhenti, mereka mengalihkan perhatian kepada proses kreatif karya sastra yang lebih serius melalui Balai Pustaka.

Pembaca sastra populer Melayu-Cina ternyata bukan terbatas pada masyarakat Cina Peranakan, tetapi juga masyarakat Indonesia. Maka, muncul usaha memenu­hi kebutuhan masyarakat sendiri dengan sastra populer yang ditulis pengarang Indonesia sendiri. Dengan demikian, hadir dua kubu kelompok pengembang sastra populer, yaitu kelompok Cina-Peranakan dengan bahasa Melayu-Cina dan kelompok sastrawan Medan dengan rasa Melayu-Rendah.

Kelompok sastrawan Medan, dalam hal bentuk dan aturan pencetakan, meniru gaya kelompok Cina‑Peranakan. Karya sastra berseri bulanan diterbitkan. Tebal halaman novel-novel populer tidak lebih dan tidak kurang dari 80 halaman dengan ukuran kecil; perhitungan ekonomis dengan 5 lembar kertas koran yang dijadikan 16 halaman pada tiap lembarnya. Bila cerita lebih panjang dari jumlah halaman yang dite­tapkan penerbit (80 halaman), maka diterbitkan dalam beberapa jilid, dan jika cerita lebih pendek dari jumlah halaman tersebut, maka ditambah ‘bonus’ berupa cerita pendek.

Bila sastra Cina-Peranakan dalam pengembangan sastra populernya bergeser dari sastra Cina kepada orientasi sastra Barat, maka sastra Medan berorientasi pada sastra Arab (Sumarjo, 1991 : 175). Maka, bermunculanlah karya sastra populer dari kedua kelompok itu yang berasal dari sastra Barat dan Arab. Karya sastra yang merupakan saduran dari sastra Barat, misalnya Sie Cay Kim dari La Dame aux Camelias, Setan dan Amur dari Kreutzer Sonata, Maen Komedi dari Graaf de Monte Cristo, dan sebagainya. Karya sastra populer yang merupakan saduran dari sastra Arab, seperti Cinta Yang Kudus merupakan saduran karya Jirji Zaidan.

Sastra Medan dalam beberapa hal masih terpe­ngaruh oleh sastra Cina peranakan, seperti penulisan cerita percintaan, cerita mitos (mythe), dan cerita sensasional yang bersifat fiktif. Model ini agak bergeser saat penulis muda kelompok ini, Jusuf Souyb, nenerbitkan cerita-cerita detektif seperti serial Elang Mas dan Pacar Merah. Penulis sastra Medan lain seperti A. Damhuri, Dali Mutiara, Merayu Sukma, Si Uma, dan Ratna Zet, banyak menggarap cerita tentang pertentangan golongan tua dan muda, tetapi pengga­rapannya kurang dalam dan kurang kompleks. Pembahasan bersifat klise, yaitu yang tua salah dan yang muda benar, watak tidak berkembang, mengabaikan faktor ilmu jiwa, dan cenderung pada penggambaran hitam putih. Oleh karena itu, karya sastra ini akhirnya mengarah pada hal-hal pornografis yang sering mendatangkan banyak protes dari masyarakat (Sumarjo, 1991 : 174). Berbeda dengan sastra Cina-Peranakan, walaupun beberapa karya sastra bersifat pornografi, seperti Jadi Korbannya Nafsu dan Bunga Mawar Berduri karya Hauw San Liang, tetapi keeaman terhadap sastra kelom­pok ini lebih banyak tertuju pada sifat-sifat keke­jaman dan kriminalitasnya (Sumarjo, 1991 : 174).

Hal yang menarik dari perkembangan sastra populer di Indonesia adalah bahwa jenis sastra ini tidak pernah mengalami “krisis sastra”. Jenis sastra populer ini selalu terbit tanpa mengalami masa senggang. Sastra populer Indonesia mengalami kemandegan pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan selama Revolusi Fisik (1945-1949). Perjalanan sastra populer, terutama sastra Medan, bergerak kembali mulai tahun 1950. Adapun sastra Cina Peranakan, secara formal, telah berhenti karena masyarakat Cina telah diintegrasikan dengan penduduk pribumi dalam hal bahasa, pendidikan, dan bahan bacaan.

Satu-satunya sastra Cina Peranakan yang masih hidup adalah cerita silat yang dikembangkan Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Gan KL, dan sebagainya. Model cerita silat bahkan pada awal tahun 60-an, menguasai pembaca sastra populer Indonesia. Hal ini disebabkan faktor politik, yaitu dengan ditetapkannya Keputusan Presiden tentang ‘demokrasi terpimpin’ yang menghentikan semua lektur Barat, terutama dalam karya seni musik dan film.

Hal yang menarik terjadi ketika zaman ‘demo­krasi terpimpin’ mulai berkibar megah, sastra popu­ler Indonesia justeru bersifat lektur sastra Barat 100% (Sumarjo, 1991 : 177). Segala sesuatu yang tidak dapat dinikmati melalui film, majalah, barang hasil  budaya Barat, ternyata dapat dipenuhi dengan penerbitan sastra populer Barat. Karya sastra populer berupa saduran- saduran dan terjemahan Barat, seperti cerita detektif, cerita western (petualangan), dan cerita perang dunia, dari pengarang Barat, seperti Earl Stanley Gardner, Agatha Cristie, George Simenon, dan Ellery Queen, membanjiri khasanah sastra populer Indonesia. Bahkan, tulisan Ian Fleming dalam seri James Bond telah dikenal pembaca Indonesia melalui sastra sebelum melalui film. Puncak dari penerbitan saduran dan terjemahan Barat tersebut terlihat pada penerbitan buku-buku seri “Rocket” Jakarta.

Setelah masa ‘demokrasi terpimpin, atau Sumarjo (1991 : 177) memberi istilah sebagai masa ‘tertentu dalam kebudayaan’, masyarakat Indonesia dapat secara bebas menyaksikan berbagai basil budaya Barat melalui film di bioskop, menyebabkan ’mimpi-mimpi tentang kemajuan Barat’ tidak lagi menjadi pusat perhatian. Maka ketika pada sekitar tahun 1967 Motinggo Busye mulai menerbitkan novel-novel dengan latar kehidupan golongan menengah dan elite di Jakarta, masyarakat segera menyambutnya. Masyarakat dengan antusias mengikuti penggambaran kebobrokan para kaum elite yang dikemukakan secara realistik (Sumarjo, 1991 : 178), misalnya pada novel Cross Mama, Cross Papa (1967). Dalam novel tersebut dan novel-novel Motinggo Busye berikutnya, penggambaran hubungan intim para tokoh cerita ditampilkan secara berani.

Model-model Motinggo ditiru oleh para epigonnya, hanya dalam penggambaran hubungan intim pelaku para epigonnya jatuh kepada penggambaran pornografi. Pada novel Motinggo Busye hubungan intim tersebut sebagai ‘pelengkap’ bagi cerita, sedangkan para epigonnya justeru menjadikannya sebagai ‘tujuan’ cerita, seperti terlihat, pada novel tulisan Valentino (tahun 70-an), Enny Arrow (tahun 80-an), dan Susy Astika (tahun 90-an). Para epigon inilah yang kemudian menjerumuskan Motinggo Busye dalam tuduhan sebagai penulis novel porno (Sumarjo, 1991 : 178).

Gaya sastra populer Indonesia sejak masa perintisan sampai zaman Motinggo Busye, cenderung bersifat lelaki karena ditulis oleh kaum lelaki dan diarahkan kepada pembaca lelaki. Kondisi ini membuat kaum wanita merasa ‘dilecehkan’ karena pada sastra bersifat lelaki, pada umumnya, penggambaran wanita diposisikan sebagai ‘objek pemuas nafsu syahwat lelaki’. Maka, pada tahun 1972 terjadi ‘revolusi’ hasil bacaan sastra populer setelah terbitnya novel dari pengarang wanita, Marga T, dalam judul Karmila, dengan tokoh protagonis wanita, dan bertemakan masalah wanita. Sejak itu munculah sastra populer yang bersifat ‘wanita’, baik yang ditulis pengarang wanita maupun ditulis oleh pengarang lelaki. Para pengarang wanita, misalnya La Rose menulis Wajah-wajah Cinta, Titiek WS menulis Sang Nyonya, dan Ike Soepomo menulis Kembang Padang Kelabu.

Para pengarang lelaki yang banyak menulis sastra populer bersifat, ‘wanita’ misalnya Eddy D. Iskandar menulis Semau Gue, Ashadi Siregar menulis Cintaku di Kampus Biru, dan Motinggo Busye menulis Puteri Seorang Jenderal. Pengarang terakhir ini merupakan perintis jejak sastra bersifat ‘wanita’, model karangannyalah yang menjadi rujukan. Di samping itu, juga menjadi rujukan dalam novel model saku dan novel bentuk novel ‘trilogi’ yang diadaptasi oleh Ashadi Siregar dan Ike Soepomo.

Dari tahun 1963 sampai 1983 tidak kurang dari lima puluh novel judul dihasilkan Motinggo Busye (Pramono, 1995), sebagian besar menempatkan tokoh wanita dan persoalan wanita sebagai persoalan utama, seperti dalam Perempuan itu bernama Barabah, Puteri Seorang Jenderal, Rendesvouz, Rindu Ibu adalah Rinduku, Fathimah Chen-Chen, Joke Tamomoan, dan sebagainya.

Dalam hal sasaran pembaca, mengelompokkan sastra populer, khu­susnya novel yang muncul mulai tahun 70-an, dalam beberapa kategori sebagai berikut.

I. Novel Remaja

Sastra remaja termasuk model yang muncul lebih kemudian dibanding model novel lain. Ciri utama model sastra populer ini adalah tokoh-tokohnya masih bersekolah di tingkat SLTA atau mahasiswa semester awal. Tema berkisar masalah ‘percintaan’ antarpara pelajar tersebut. Struktur plot terbangun sederhana, dari dimulai perkenalan, bersuratan, dan dilanjutkan dengan berpacaran. Suasana cerita pada umumnya menunjukkan suasana mesra, penuh humor ringan, dan cerdas, per­gaulan hanya berakhir pada ciuman mesra, tidak terda­pat adegan ranjang, dan sopan santun terhadap yang lebih tua masih terjaga. Tokoh utamanya gadis pelajar cantik atau perjaka tampan yang saling jatuh hati terhadap lawan jenisnya.

Novel remaja ini pada tahun 70-an memperoleh pembaca yang besar. Kondisi ini diperkuat dengan membanjirnya majalah-majalah remaja, seperti Gadis, Puteri, Hai, dan beberapa majalah yang terbit di daerah. Meluapnya pembaca remaja secara sosiologis terlihat pada besarnya jumlah pelajar SLTA pada sekitar tahun 1970, yang menurut Mashuri (Sumarjo, 1982 : 63) berjumlah 15 juta pelajar. Para pelajar tersebut perlu membaca dan membutuhkan bacaan. Sementara itu, perpustakaan, baik di sekolah maupun umum, hanya menyediakan bacaan sastra ‘wajib’ yang terpaksa mau dibaca karena tugas guru. Isi bacaan tersebut pun tidak mencerminkan aspirasi mereka, latar belakang cerita sudah tidak mereka kenal, terlalu serius, dan terlalu banyak persoalan adat istiadat ‘daerah’ yang tidak mereka pahami. Maka, mereka pun mencari bacaan populer yang ringan dan membicarakan kehidupan mereka secara langsung.

Pengarang novel remaja yang cukup banyak digemari adalah Eddy D. Iskandar dengan beberapa hasil karya novelnya, yaitu Cowok Komersil, Semau Gue, Gita Cinta dari SMA, Musim Bercinta, Sejoli Bintang Remaja, dan beberapa novel lainnya. Setelah Eddy Iskandar, muncul Yudhistira Ardi Noegra­ha dengan Arjuna Mencari Cinta, Teguh Esha dengan Ali Topan, Leila S. Chudori dengan beberapa cerpen remajanya yang memperoleh pujian dari HB Jassin, dan Hilman Harwijaya dengan serial noveletnya yang berjudul Lupus, dan sebagainya.

2. Novel Kampus

Nafas novel kampus hampir sama dengan novel remaja, hanya persoalan yang tampil di sekitar persoalan mahasiswa semester atas. Tema novel kampus masih berkisar masalah ‘cinta’ di antara mahasiswa, hanya bersifat lebih kompleks. Tokoh-tokohnya sudah menampilkan sosok dewasa, maka senda gurau dan sifat main-main dalam menyelesaikan persoalan mulai berkurang dan keseriusan menghadapi hidup mulai tampak (Sumarjo, 1982 : 85). Struktur plot masih sederhana, jalan cerita mengalir lembut dan terpelajar.

Penulis novel kampus yang banyak digemari adalah Ashadi Siregar dengan novelnya yang terkenal, yaitu Kampus Biru, atau novel Ashadi yang lain, seperti Terminal Cinta Terakhir. Novel Ashadi Siregar, seperti contoh tersebut, menampilkan masalah sosial di sekitar kampus, misalnya tentang mahasiswa yang tertindas oleh otoritas dosen, protes sosial para mahasiswa terhadap otoritas dosen, dan kungkungan ‘hedonisme’ yang melanda anak-anak muda.

Penulis lain yang banyak membahas persoalan di sekitar kampus, adalah Marga T dalam Badai Pasti Berlalu yang mengisahkan percintaan antarmahasiswa kedokteran, dan Sri Bekti Subakir dalam Di Ambang Fajar. Berbeda dengan Ashadi Siregar yang menempatkan protagonis kaum lelaki, pada kedua penulis wanita tersebut permasalahan dipusatkan pada protagonis ‘wanita’, masalah sekitar manusia sebagai sosok ‘wanita’ dan dengan gaya cerita tanpa protes sosial.

Pada lima tahun terakhir novel kampus dikejutkan dengan munculnya penulis baru yang langsung melejit yaitu Andrea Hirata., dengan menerbitkan tetralogi dengan judul Laskar pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Novel Laskar Pelangi memperoleh sambutan yang luar biasa. Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru besar Universitas Indonesia mengatakan kelebihan novel ini pada ramuan pengalaman imajinasi yang menarik yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan..

  1. Novel Wanita

Jenis novel ini banyak ditulis pars penulis wanita seperti La Rose, Titiek WS, Titie Said, Ike Soepomo, Marga T dan Marianne Katoppo. Adapun bebera­pa penulis pria yang cukup produktif dalam penulisan novel wanita, seperti Motinggo Busye, Saut Poltak Tambunan, dan sebagainya.

Novel wanita ini pada umumnya berprotagonis wanita, dengan permasalahan di sekitar percintaan dan rumah tangga. Tema digarap lebih serius dibanding kedua novel sebelumnya, yaitu tentang problematika cinta dan rumah tangga dan dipaparkan secara serius (Sumarjo, 1982 : 67). Latar kehidupan cerita yang ditampilkan adalah kalangan atas di Jakarta. Kehidupan orang-orang yang berumah mewah, berperangkat rumah tangga yang mutakhir, berpendidikan bagus, dan ,memiliki posisi baik. Problematika yang ditampilkan bukan persoalan ekonomi, tetapi persoalan psikologis para tokohnya (ketidakserasian berumah tangga, penyelewengan, masalah orang ketiga, dan sebagainya).

Amanat yang ingin ditonjolkan dalam novel wanita adalah sekitar kehidupan keluarga yang harmonis, pengertian antarkekasih, pengertian antar suami-istri, saling menghargai dan menghormati watak masing-masing acapkali digambarkan secara mengharukan. Letak kemesraan yang digambarkan novel wanita lebih bersifat rohaniah daripada jasmaniah. Kemesraan jasmaniah, dalam ‘adegan ranjang’ misalnya, digam­barkan secara tersamar dan halus. Menilik segi amanat tersebut terlihat bahwa novel wanita diarahkan kepada pembaca wanita muda atau ibu rumah tangga.

Beberapa novel yang dapat dikelompokkan ke dalam jenis novel wanita, antara lain Di Telan Kenyataan oleh La Rose yang mengisahkan munculnya para koruptor di kalangan pejabat yang dulu aktif berjuang; Wajah-wajah Cinta oleh La Rose yang mengisah­kan problematika cinta seorang gadis dengan seorang kepala rumah tangga; Jangan Cabut Nyawaku oleh Titie Said yang menceritakan perjuangan dan penderitaan seorang wanita yang mengidap penyakit kanker; dan Sang Nyonya dari Titiek WS yang menceritakan perbedaan gaya hidup golongan kelas bawah dengan golongan kelas atas yang menjadi pimpinannya.

Di samping itu, ternyata terdapat beberapa novel wanita yang memperoleh penghargaan dalam sayembara yang salah satu jurinya adalah HB Jassin, seperti novel Selembut Bunga oleh Aryanti, Segenggam Harapan Yang Hilang oleh Noerma Sidharta, dan Anggrek Pernah Berdusta karya Marianne Katoppo.

  1. Novel Lelaki Dewasa

Pada masa awal kemerdekaan, novel yang digemari lelaki dewasa adalah jenis novel silat, western (cerita petualangan), dan detektif, seperti terbitan Medan. Tema pada novel-novel ini cenderung menonjolkan sifat keberanian, kejantanan, keadilan, kecer­dasan, kegesitan, dan kekesatriaan yang diidolakan pembaca lelaki. Maka, pada umumnya protagonis jenis novel ini adalah kaum lelaki.

Latar belakang pengisahan novel lelaki dewasa, cukup beragam, baik dari segi tempat maupun segi waktu. Keberaragaman tersebut terlihat dari segi waktu, misalnya cerita silat banyak berkisah mengenai cerita masa lalu, sedangkan cerita detektif banyak berkisah masa kini dan masa depan; dari segi tempat cerita silat berkisar di tanah Cina, Jawa, dan Sumatra, sedangkan cerita detektif dan western terjadi di Eropah-Amerika.

Berbeda dengan novel jenis lainnya, novel lelaki dewasa lebih banyak dipenuhi oleh novel-novel terjemahan atau saduran. Contoh jenis novel ini adalah cerita silat bersambung yang sangat terkenal, seperti Pendekar Pulau Es dari Asmaraman S. Kho Ping Hoo Nagasasra Sabuk Intan dari SH Mintadja, Bende Mataram dari Herman Pratikto, Sebastian Tito, Pendekar Naga Geni, dan kemudian diikuti oleh Arswendo Atmowiloto dengan Senopati Pamungkas. Dalam cerita detektif hasil terjemahan atau saduran yang digemari pembaca lelaki dewasa adalah cerita dari Ian Fleming dengan tokoh James Bond-nya, Nick Carter dengan tokoh Nick-nya, dan Agatha Christi dengan tokoh Mr. Poirot-nya, dari penulis terakhir karya terjemahannya banyak diterbitkan oleh penerbit terkemuka. Adapun cerita western lebih tertuju pada hasil penerbitan Pradnya Paramitha dari tulisan Karl May dalam kisah-kisah petualangannya ke Afrika, Balkan, Arab, dan daerah Indian-Amerika.

Beberapa karya asli jenis novel lelaki dewasa bercorak modern pernah dicoba ditulis pengarang Indonesia, seperti novel-novel horor karya Abdullah Harahap: Manusia Harimau dan Hutan Parigi, atau novel banditisme karya Parakitri : Kusni Kasdut, hanya saja novel-novel ini kurang banyak penggemarnya. Jenis novel lelaki dewasa asli yang cukup banyak penggemarnya adalah cerita silat seperti yang ditulis SH Mintardja, Herman Pratikto, Sebastian Tito, dan beberapa nama pengarang lain yang mengikuti jejak mereka.

Dalam perkembangan selanjutnya, sekitar per­tengahan tahun 1970-an berkembang upaya-upaya pe­layarperakan (media film) novel-novel yang menjadi best-seller. Beberapa judul novel yang telah dijadi­kan film, misalnya Semau Gue karya Eddy D. Iskandar, Karmila karya Marge T, Ali Topan karya Teguh Esha, Puteri Seorang Jenderal karya Motinggo Busye, dan sebagainya. Keberhasilan pelayarperakan novel-novel populer tersebut mendorong kaum sineas, khususnya Asrul Sani, juga memfilmkan karya sastra serius seperti, Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Asuhan karya Abdul Muis, dan Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Di samping hasil karya berupa novel, karya drama yang dilayarperakan dan dilayarkacakan (media televisi) mulai bermunculan, seperti Malam Jahanam karya Motinggo Busye dan karya-karya Asrul Sani, seperti, Apa yang Kau Cari Palupi?, Mahkamah, Monumen Abdurahman, Jenderal Nagabonar , dan sebagainya. Pengarang yang terakhir, yang merupakan salah satu tokoh sastrawan Angkatan 45 ini, setelah tahun 70-an bertekun diri dalam bidang film dan sinematografi, seperti pembuatan film dari hasil karya dramanya seperti disebutkan pada beberapa judul diatas, dan berkecimpung dalam pembuatan skenario untuk film atau sinetron dari karya sastra karangan sastrawan lain, seperti sinetron Sitti ‘Nurbaya, Salah Asuhan, dan Sengsara Membawa Nikmat, juga penulisan karya skenario asli untuk film, seperti KejarlahIah Daku Kau Kutangkap, Nada dan Dakwah, Ramadhan Ramona, dan beberapa karya lainnya.

Pemfilman atau pensinetronan karya sastra populer merupakan pengembangan bagi penemuan popularitas baru bagi karya sastra. Hal ini disebabkan, seperti pula telah dijelaskan di atas, bahwa sastra populer merupakan karya sastra yang tumbuh dan berkembang dari dan bagi keuntungan masyarakat modern, bermodal, dan berteknologi.

  1. 5. Novel Religius

Novel populer yang bersifat religius sebenarnya sudah dirintis sejak dahulu, khususnya oleh Motinggo Busye sekitar tahun 1978 dengan judul Puteri Seorang Jenderal. Sambutan besar terhadap novel ini dibuktikan dengan pemfilman novel tersebut di layar lebar. Dari tangan Motinggo Busye munculah novel-novel religius seperti Rindu Ibu adalah Rinduku (yang di dalamnya memuat surat Al Insyirah/Pengluasan sebagai dasar semangat seorang anak memberikan pengabdian yang tulus kepada sang ibu sampai akhir hayat),; Fathimah Chen Chen seorang wanita muallaf yang setelah berkenalan dengan Islam menjadi wanita yang sopan, tangguh, dan berbakti. Tulisan nobel Motinggo Busye yang religius dan cenderung bersifat sufistik berjudul Sanu Infinita Kembar (1988) dimuat majalah Horison sebagai cerita bersambung.

Pada dekade menjelang tahun 2000 munculah seorang penulis wanita bernama Abidah el-Khalieqi yang menulis novel religius berjudul Perempuan Berkalung Sorban yang berkisah tentang pergolakan seorang wanita yang berupaya menemukan jati diri di tengah keterbatasan “kewanitaannya” berdasar hasil  didikan di lingkungan pesantren.

Penulis lain yang berlatar belakang pesantren dan pendidikan Timur Tengah adalah Habiburrahman el Shirazy menulis Ayat-ayat Cinta dan KetIka Cinta Bertasbih.

Dari basil pembahasan di atas terlihat bahwa budaya populer, khususnya sastra populer, telah menjadi sebuah kenyataan dan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dewasa ini.

Dengan demikian, telaah tentang sastra populer, memiliki keniscayaan akan membuka garis batas pembelajaran, batas pemikiran, batas adat istiadat, dan batas kebiasaan sehingga menjadi tradisi alternatif. Hal ini patut sungguh-sungguh dipertimbangkan menjadi bagian bahan penelitian pada bidang human­iora, yang diharapkan dapat diperhitungkan sebagai model untuk memperbaiki kesetimbangan pengajaran dan apresiasi sastra di masa yang akan datang.

Yogyakarta, November 2008

About tempekemulmanget2

i'm just a normal girls...n being with you is the best moment in my life because you are the best thing that ever happen in my life:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s