Posted on

WAHYU DAN AKAL

MAKALAH SERTIFIKASI IV

WAHYU DAN AKAL

Dosen : Drs, PARJIMAN, M.Ag

 

Disusun oleh:

  1. 1.      DWI WULANDARI                                    (08004016)
  2. 2.      NAILA ATTAMINI                                     (08004020)
  3. 3.      WINDA NURYASARI                    (08004021)
  4. 4.      ERMI KARTIKA DW                    (08004055)
  5. 5.      NURIZKY RAHMAWATI             (08004060)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

Puji syukur kepada Allah Rabb semesta alam yang telah banyak mencurahkan rahmat serta kasih sayangnya kepada penduduk bumi sehingga Islam masih menjadi pondasi yang kokoh dalam diri pribadi manusia. Shalawat serta salam tak lupa kita hadiahkan kepada nabi Muhammad SAW juga beserta para sahabatnya yang istiqomah memperjuangkan Islam, semua ini tiada lain adalah hasil dari akal dan wahyu yang selalu berdampingan dalam memberikan petunjuk kepada manusia itu sendiri, karena pemahaman yang baik akan melahirkan keistiqomahan, sudut pandang yang baik dan juga ahlak yang baik. Dan dengan akal jua manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian allah yang sangat luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus.

Semua aliran teologi dalam islam baik asy,ariyah maturidiyah apalagi mu’tazilah sama-sama mempergunakan akal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan teologi yang timbul dikalangan umat Islam perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu ialah perbedaan derajat dalam kekuatan yang diberikan kepada akal, kalau mu’tazilah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat, As’ariyah sebaliknya akal mempunyai daya yang lemah.

Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga mnghasilkan budi pekrti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda rasulullah SAW.

Semua aliran juga berpegang kepada wahyu , dalam hal ini yang terdapat pada aliran tersebut adalah hanya perbedaan dalam intrpretasi. Mengenai teks ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, perbedaan dalam interpretasi inilah sebenarnya yang menimbulkan aliran-aliran yang berlainan itu tentang akal dan wahyu. Hal ini tak ubahnya sebagai hal yang terdapat dalam bidang hukum Islam atau fiqih.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    AKAL

Pengertian Akal

Kata akal berasal dari bahasa Arab al-‘aql, al-‘aql adalah berasal dari kata ‘aqola – ya’qilu – ‘aqlan yang maknanya adalah “ fahima wa tadabbaro “ yang artinya “paham (tahu, mengerti) dan memikirkan (menimbang). Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 75

أَفَتَطۡمَعُونَ أَن يُؤۡمِنُواْ لَكُمۡ وَقَدۡ كَانَ فَرِيقٌ۬ مِّنۡهُمۡ يَسۡمَعُونَ ڪَلَـٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ ۥ مِنۢ بَعۡدِ مَا                                                                                                   عَقَلُوهُ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka merobahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui”.

QS.Al-Haj ayat 46

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ يَعۡقِلُونَ بِہَآ أَوۡ ءَاذَانٌ۬ يَسۡمَعُونَ بِہَا‌ۖ فَإِنَّہَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَلَـٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.

QS. Al-Baqarah ayat 242

كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَڪُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُ

“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya [hukum-hukum-Nya] supaya kamu memahaminya”

Akal terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Akal praktis (‘amilah), yaitu  akal yang melihat hal-hal segala sesuatunya  melalui panca indra.
  2. Akal teoretis (‘alimah), yaitu akal yang menangkap sesuatu yang bersifat imateril seperti Tuhan, malaikat, jin.

Fungsi dari akal yang paling besar yaitu ntuk mengetahui hakikat dari kebenaran. Kebenaran sendiri tidak akan dapat tercapai jika hanya menggunakan akal tapi juga harus berpegang teguh pada ajaran yang telah diturunkan oleh Allah swt.

Akal sangat penting karena akal menurut pendapat Muhammad Abduh adalah suatu daya yang hanya dimiliki manusia yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.  Akal adalah tonggak kehidupan manusia yang mendasar terhadap kelanjutan wujudnya, peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar dan sumber kehidupan. Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.

Ajaran Agama Islam memberikan kedudukan yang mulia terhadap akal, Allah menjadikan akal sebagai tempat bergantungnya hukum sehingga yang tidak berakal tidak dibebani hukum. Islam menjadikan akal sebagai salah satu dari lima perkara yang harus dilindungi yaitu: agama, akal, harta, jiwa dan kehormatan. Allah mengharamkan khamr untuk menjaga akal. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 90:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَـٰمُ رِجۡسٌ۬ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَـٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ                                                                                              لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya [meminum] khamar, berjudi, [berkorban untuk] berhala, mengundi nasib dengan panah [1], adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. 

  1. B.     WAHYU

Wahyu berasal dari kata Arab al-wahy yang memiliki beberapa arti seperti kecepatan dan bisikan. Wahyu adalah nama bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada nabi-nabi-Nya. Wahyu adalah sesuatu yang dimanifestasikan, diungkapkan. Ia adalah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan penegasan atas kebenaran. Setiap gagasan yang di dalamnya ditemukan kebenaran ilahi adalah wahyu, karena ia memperkaya pengetahuan sebagai petunjuk bagi manusia.

Allah sendiri telah memberikan gambaran yang jelas mengenai wahyu ialah seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 16 yaitu:

هۡدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٲنَهُ ۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِهِۦ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬                                                                                                                مُّسۡتَقِيمٍ۬

Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”

Pengertian wahyu adalah kitab Al Quran yang di dalamnya merupakan kumpulan-kumpulan dari wahyu yang membenarkan wahyu-wahyu sebelumnya (taurat, injil, zabur) dan diturunkan oleh Allah hanya kepada Nabi Muhammad SAW selama hampir 23 tahun
Berikut adalah pengertian wahyu :
1. Wahyu dikatakan wahaitu ilaihi atau auhaitu bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak diketahui orang lain.
2. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang dan terkadang melalui suara semata dan terkadang pula melalui isyarat dengan anggota badan.

3. Al-wahyu adalah kata masdar/infinitif dan materi kata itu menunjukkan dua dasar yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi kadang-kadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha yaitu pengertian isim maf’ul yang diwahyukan.

4. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi Ilham sebagai bawaan dasar manusia seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ‘Susuilah dia ...’    Ilham berupa naluri pada binatang seperti wahyu kepada lebah Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah

أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتً۬ا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ

‘Buatlah sarang di bukit-bukit di pohon-pohon kayu dan di rumah-rumah yang didirikan manusia’. {An-Nahl’ 68}.

Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al     Quran Maka keluarlah dia dari mihrab lalu memberi isyarat kepada mereka ‘Hendaknya kamu  bertasbih di waktu pagi dan petang’. {Maryam’ 11}.

 

  1. C.    KEDUDUKAN WAHYU DAN AKAL DALAM PEMIKIRAN KEISLAMAN

 

Dalam perkembangan Islam akal memiliki peranan penting dalam segala bidang termasuk dalam bidang agama. Dalam membahas masalah-masalah agama para ulama tidak hanya bergantung pada wahyu semata tetapi banyak juga yang menggunakan pendapat atau pemikiran-pemikiran dari ulama lain.

Peranan akal dalam masalah-masalah keagamaan dijumpai dalam bidang fikih, teologi, dan fikih dan tafsir.

  1. Fikih

Untuk memahami dan mengerti sesuatu diperlukan akal. Fikih berasal dari kata faqiha yang mengandung makna faham dan mengerti. Fikih merupakan ilmu yang membahas pemahaman dan tafsiran ayat-ayat Al-Quran yang berkenaan dengan hukum,yakni ayat-ayat ahkam. Untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat tersebut diperlukan al-ijtihad. Ijtihad mengandung arti usaha keras dalam melaksanakan pekerjaan berat dan dalam istilah hukum berarti usaha keras dalam bentuk pemikiran akal untuk mengeluarkan ketentuan hukum agama dari sumber-sumbernya. Ijtihad banyak dipakai dan penting kedudukannya dalam fikih. Dalam fikih juga dikenal istilah al-ra’y yang berarti pendapat atau opini. Al-ra’y disini dihubungkan dengan akal dan berarti memikirkan dan merenungkan. Selain itu ada juga istilah al-qias yang berarti mengukur sesuatu dengan ukuran tertentu dan dalam istilah fikih kata al-qias mengandung arti menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada nas hukumnya dengan hukum sesuatu yang lain yang ada nas hukumnya atas dasar persamaan sebabnya. Untuk menentukan adanya persamaan itu diperlukan pemikiran.

  1. Ilmu Tahwid atau Teologi

Jika dalam ilmu fikih peranan akal dalam hukum islam yang dipermasalahkan, dalam ilmu tahwid permasalahannya meningkat menjadi akal dan wahyu. Perdebatan antar aliran-aliran teologi islam yang terjadi mempermasalahkan kesanggupan akal dan fungsi wahyu terhadap dua permasalahan pokok dalam agama, yaitu adanya Tuhan serta kebaikan dan kejahatan.

Menurut kaum Mu’tazilah adanya Tuhan, kebaikan dan kejahatan dapat diketahui dengan akal.

Secara singkatnya berbicara akal dan wahyu dalam konsepsi keislaman di bagi menjadi dua perspektif

  1. Aliran mutakallimun yang akan menelorkan ilmu fiqih, sorof dan nahwu menganggap bahwa posisi wahyu menjadi bangunan utama, baik berbicara mengenai baik dan buruk, dosa dan pahala dll.
  2. Adapun para filosof yang akan melahirkan konsep mengenai ontologi, epistemologi dan fenomenologi menganggap bahwa peran akal menjadi basis utama dalam melihat sebuah fenomena yang terjadi.

Namun menurut al-kindi bahwa akal dan wahyu bersifat komplementer ataupun saling melengkapi. Dan juga pendapat ar-razi dalam memandang keberadaan akal dan wahyu.

QS. An-nahl ayat 12

وَسَخَّرَ لَڪُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ‌ۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٲتُۢ بِأَمۡرِهِۦۤ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَعۡقِلُونَ

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan [untukmu] dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang memahami [nya]

 

  1. D.    IMPLIKASI WAHYU DAN AKAL TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM

Ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam tidak dapat di pisahkan, karena perkembangan masyarakat Islam sangat di tentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang di cerna melalui proses pendidikan. Sains yang di kembangkan dalam pendidikan haruslah berorientasi pada nilai-nilai islami. Dengan potensi akal, manusia dapat mencari kebenaran walaupun akal bukan satu-satunya sumber kebenaran. Kebenaran sebenarnya dapat dicapai melalui pendekatan ilmiah dan filosofis dan sebagai pemandu kebenaran tersebut di butuhkan wahyu, yang sebelumnya harus di percayai sebagai sumber kebeneran dari Tuhan. Antara akal dan wahyu yang merupakan sumber ilmu pengetahuan satu sama lainny berhubungan erat dan tidak mungkin terjadi antithesis.
Akal dengan kekuatannya mampu menguak ilmu pengetahuan yang rasional, sedangkan wahyu melengkapinya dengan objek yang tidak hanya rasional tetapi juga supra rasional. Dengan demikian, sumber ilmu pengetahuan yang di kembangkan dalam pendidikan Islam memiliki dua jalur, yaitu jalur wahyu ilahi dan jalur karya ilahi. Yang keduanya saling menjelaskan dan menafsirkan.
Pendidikan Islam tidak menghendaki adanya dikotomi keilmuan. Terjadinya dikotomi dalam pendidikan Islam akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:
1. Kegagalan dalam merumuskan prinsip tauhid.
2. Lembaga pendidikan Islam akan melahirkan manusia yang berkepribadian ganda atau justru melahirkan dan memperkokoh sistem kehidupan umatyang sekuleristis dan matrealistis.
3. Tata kehidupan umat yang demikian akan melahirkan peradapan barat yang di poles dengan nama Islam.
Ilmu pengetahuan pada hakekatnya di kembangkan dalam rangka melaksanakan amanah Tuhan dalam mengendalikan alam dan isinya, sehingga dengan bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang, bertambah pulalah petunjuk Tuhan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat memberi nilai pragmatis apabila ilmu pengetahuan tersebut dapat menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas dalam menjalani kehidupan sebagai hamba dan khalifah Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Akal adalah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang merupakan manifestasi internal dari keberadaan Nabi. Wahyu adalah firman Allah yang disampaikan kepada Nabi-Nya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk disampaikan kepada umatnya. Pengetahuan adalah hubungan antara subjek dan objek, sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji secara ilmiah dan kebenarannya jelas. Akal dan wahyu digunakan untuk mendapatkan pengetahuan bagi umat manusia.
Antara akal dan wahyu terdapat ruang dimana keduanya dapat bertemu dan bahkan saling berinteraksi dan terdapat pula ruang dimana keduanya harus berpisah. Pada saat wahyu merekomendasikan berkembangnya sain dan lestarinya budaya dengan memberikan ruang kebebasan akal agar berpikir secara dinamis, kreatif dan terbuka, di sanalah terdapat ruang bertemu antara akal dan wahyu.
Secara ontologis kebebasan berpikir sebagai kinerja akal tidak terikat dengan nilai, tetapi implikasi kebebasan berpikir itu secara aksiologis dibatasi dengan tanggungjawab dan moral. Hanya sebagaian filosof Barat seperti Galileo Galilie dan para pengikutnya yang membebaskan manusia mengembarakan akal pikirnya sebebas-bebasnya. Kebebasan itu tidak ada sangkut pautnya dengan nilai, sehingga mereka berpendapat bahwa ilmu sebagai produk kinerja akal adalah bebas nilai secara total.
Menurut filsafat Islam dimana dasar pijakannya adalah hikmah (fisafat) dan al-Qur’an, akal yang meretaskan budaya berpikir dalam implementasinya, sebagaimana dicontohkan oleh nabi, adalah tidak bebas nilai. Begitu pula ilmu sebagai produk kerja akal melalui proses berpikir tentu juga tidak bebas nilai. Di sinilah antara wahyu (moral agama) yang sarat nilai harus tidak boleh berpisah dengan akal. Secara etika ilmu harus dapat mensejahterakan kehidupan bukan sebaliknya. Oleh karenanya akal sebagai sarana menemukan kebenaran berhimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggungjawab agama.

Menurut Imam al-Ghazali, akal betapa pun hebatnya harus mau dikontrol oleh wahyu. Kebenaran yang dicapai oleh akal bersifat relatif-spikulatif, sedangkan kebenaran wahyu bersifat mutlak karena datangnya dari Yang Maha Benar dan Maha Mutlak.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://cahaya-iman.web.id/2008/12/kedudukan-akal-dalam-islam/ (06 April 2011)

Al-Quran dan terjemahnya 30 juz edisi revisi Departemen Agama

Akal dan Wahyu Dalam Pemikiran Islam oleh Harun Nasution

Advertisements

About tempekemulmanget2

i'm just a normal girls...n being with you is the best moment in my life because you are the best thing that ever happen in my life:D

One response to “WAHYU DAN AKAL

  1. widiagroup ⋅

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://entrydatagroup.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s